Sunan Giri


-1994/1995-
Riwayat Hidup Sunan Giri
Nama kecilnya ialah Raden Paku tetapi juga dikenal dengan nama Prabu Satmata atau Sultan Abdul Fakih. Beliau adalah putera dari Maulana Ishak dari Blambangan, Jawa Timur. Sebagaimana ayahnya maka Raden Paku ini juga berguru kepada Raden Rakhmat alias Sunan Ampel. Beliau belajar bersama Maulana Makdum Ibrahim, putera Sunan Ampel tetapi juga sekaligus sebagai murid Sunan Ampel. Jika Raden Paku nanti bergelar Sunan Giri maka Maulana Makdum Ibrahim nanti bergelar Sunan Bonang.

Baik Raden Paku maupun Maulana Makdum Ibrahim keduanya nenuntut ilmu ke Pasai kemudian ke Malaka. Di Pasai keduanya belajar tentang tasawuf dan tauhid. Di Malaka kedua murid dari Gresik ini diterima dengan baik oleh Maulana Ishak (Syeikh Awwalul Islam). Mereka berdua belajar sebentar karena keduanya termasuk kelompok kaum kasyaf yang sering mendapatkan ilmu landuni secara gaib sehingga guru-gurunya di Pasai memberikan nama kepada mereka sebagai “Ainul Yakin“.

 
Raden Paku alias Syeikh Ainul Yakin menikah dengan puteri Sunan Ampel yang bemama Dewi Murtasiah dan bermukim di Giri. Sebagai basis pendidikan dan pembentukan kader yang tangguh maka didirikanlah pondok-pondok pesantren. Dalam waktu singkat Giri menjadi pusat pendidikan Islam yang handal dan murid-muridnya datang dari segala penjuru tanah air, antara lain dari Madura, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Hitu, Temate, Tidore, dan Halmahera. Pengaruh ajaran Sunan Giri meluas ke wilayah Nusantara di luar Pulau Jawa. Dalam mengajarkan Islam beliau mengembangkan teknik khusus yang intinya: “dapat mengalahkan musuh tanpa membunuhnya”. Dalam ajaran kejawen, ada pedoman hidup yang sangat luhur yaitu “sugih tanpa banda, menang tanpa ngasorake” (artinya: kaya tanpa harta, menang tanpa menghina lawan). Ajaran ini pernah dianut oleh R.M. Sosrokartono (kakanda dari R.A. Kartini).

Ajaran Sunan Giri lainnya berupa permainan anak-anak serta tembang-tembang yang diisi nafas keislaman. Beliau dikenal pula sebagai pencipta tembang Asmaradana dan Pucung.

Raden Paku wafat di Giri dan dimakamkan di sana pula. Oleh masyarakat beliau dikenal sebagai Sunan Giri. Generasi sesudahnya yang meneruskan pekerjaan almarhum di Gresik ialah Sunan Dalem, Sunan Sedeng Margi, dan Sunan Prapen. Ketika Sunan Prapen wafat tahun 1597, beliau digantikan oleh Sunan Kawis Guwa, kemudian oleh Panembahan Ageng Giri yang wafat tahun 1638 M. Penggantinya ialah Panembahan Mas Witana Sideng Rana yang wafat tahun 1660 M. Pangeran Puspa Ira meneruskan kegiatan di Giri atas perintah Amangkurat I Kekuasaan, kebesaran dan kharisma Giri runtuh ketika Amangkurat II yang bersekongkol dengan kompeni menyerang Giri pada tanggal 27 April1680 M (Salam 1960:39-40).

Bangunan Makam
Giri adalah sebuah desa berbukit-bukit yang termasuk wilayah Keeamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Di perbukitan Giri ada beberapa desa yaitu Giri, Sidomukti, dan Klangonan.
Lokasi makam Sunan Giri ada di Desa Giri Gajah, Kecamatan Kebomas. Kompleks makam ini luas dan berada di ketinggian sekitar 30 m dari halaman tempat parkir kendaraan.
Bangunan makamnya berbentuk joglo, pintu ke dalam bangunan ini kecil dan sempit tetapi daun pintunya penuh ukiran yang rumit. Di dalam bangunan ini ada bangunan lebih kecil yang di dalamnya disemayamkan jazat Sunan Giri. Cungkup kecil yang melindungi makam Sunan Giri ini penuh dengan ukiran ragam hias suluran, daun dan bunga. Di ambang pintunya ada pahatan kala makara dan naga.

Hiasan Makam
Sekitar 30 cm di luar jirat dipasang “pagar” keliling dari kayu yang bentuknya seperti pelindung tempat tidur kayu. Jiratnya polos tetapi nisannya dibentuk seperti bentuk nisan umumnya. Pahatan atau ukirannya tidak begitu jelas. Makam ini ada di dalam kamar berpintu dan kamar ini berada di dalam bangunan cungkup yang besar. Bagian yang diberi hiasan indah justru dinding kamar makam dan pintu kamar makam.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : MAKAM-MAKAM WALI SANGA, Dr. Machi Suhadi/Dra. Ny. Halina Hambali, Proyek Pengmbangan Media Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan , 1994/1995, Hlm. 53-56.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Gresik, Wisata Relegi dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s