Reog Ponorogo, Seni Tradisional yang Magis


-Agustus 2010-

Reog, salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Timur semakin terkenal setelah kontroversi klaim Malaysia sebagai pemilik kesenian itu. Ponorogo dipastikan sebagai tanah kelahiran Kesenian Reog yang sedikit berbau magis ini. Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bra Kertabumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pad a abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak kerajaan yang berperilaku korup dan diatur oleh kelompok pedagang asal China. Ia melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir.

Ki Ageng Kutu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan yang mengajarkan seni bela diri ilmu kekebalan diri. dan ilmu kesempurnaan kepada anak-anak muda. Ia mengharapkan anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak.

Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan, maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog. sebagai “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan, simbol Kertabumi. Di atasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para pedagangChina yang mengatur segala gerak-geriknya.

Jatilan yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit. Gemblak ini menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada di balik topeng badut merah. Ki Ageng Kutu disimbolkan dalam bentuk kekuatan besar, sendirian menopang berat topeng singabarong yang beratnya mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya.

Populernya Reog Ki Ageng Kutu menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan menyerang perguruan Ki Ageng Kutu. Warok dengan cepat bisa diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran. Namun kesenian Reog masih diperbolehkan pentas karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dengan menambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.

Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning. Di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa. Sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tarian menggambarkan perang antara Kerajaan Kediridan Kerajaan Ponorogo yang mengadu ilmu hitam. Parapenari dalam keadaan ‘kerasukan’ saat membawakan tarian. Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewaris budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan secara turun temurun. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya jika tidak memiliki garis keturunan yang jelas. Warok sampai sekarang masih mendapat tempat sebagai sesepuh di masyarakatnya. Kedekatannya dengan dunia spiritual sering membuat seorang warok dimintai nasehat sebagai pegangan spiritual ataupun ketenteraman hidup. Seorang warok harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati, jalan kemanusiaan yang sejati.

Warok adalah pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan antara kebaikan dan kejahatan dalam cerita kesenian reog. Hingga saat ini, Warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Warok adalah sosok dengan stereotip: memakai kolor, berpakaian hitam-hitam, memiliki kesaktian dan gemblakan. Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani, bahkan kadang para pejabat pemerintah selalu meminta restunya.

Dahulu warok dikenal mempunyai ban yak gemblak, laki-laki belasan tahun berparas tampan dan terawat yang dipelihara sebagai kelangenan, yang kadang lebih disayangi ketimbang istri dan anaknya. Memelihara gemblak adalah tradisi yang berakar pada komunitas seniman reog.

Dalam tradisi yang dibawa oleh Ki Ageng Suryongalam, kesaktian bisa diperoleh bila seorang warok rela tidak berhubungan seksual dengan perempuan. Hal itu konon merupakan keharusan yang berasal dari perintah sang guru untuk memperoleh kesaktian.

Kewajiban setiap warok untuk memelihara gemblak dipercaya agar bisa mempertahankan kesaktiannya. Saat ini memang sudah terjadi pergeseran dalam hubungannya dengan gemblakan. Di masa sekarang gemblak sulit ditemui. Tradisi memelihara gemblak, kini semakin luntur. Gemblak yang dahulu biasa berperan sebagai penari jatilan (kuda lumping), kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal dahulu kesenian ini ditampilkan tanpa seorang wanita pun.

Pada masa sekarang lulusan sekolah-sekolah seni turut memberikan sentuhan pada perkembangan tari Reog Ponorogo. Mahasiswa sekolah seni memperkenalkon estetika seni panggung dan gerakan-gerakan koreografis, maka jadilah Reog Ponorogo dengan format festival seperti sekarang.

Beberapa tahun yang lalu Yayasan Reog Ponorogo memprakarsai berdirinya Paguyuban Reog Nusantara yang anggatanya terdiri atas grup-grup reog dari berbagai daerah di Indonesia yang pernah ambil bagian dalam Festival Reog NasionAl. Reog Ponorogo menjadi sangat terbuka akan pengayaan dan perubahan ragam geraknya. Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional.

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Di sini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongon) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penonton.

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Profile Jawa timur: The Great of East Java, Surabaya: Agustus 2010, Hlm. 189-196.

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Ponorogo, Seni Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s