Telasan Topak di Madura : Lebih Meriah dari Idul Fitri


Sejumlah ibu dan remaja sibuk menganyam janur menjadi pembungkus ketupat. Sambi I bercanda ria mereka mengisi ketupat dengan beras yang sudah ditiris di atas tampah. Sebagian yang lain sedang membuat lepet (penganan ketan yang dibungkus daun pisang dan diikat dengan pelepah). Hanya saja, lepet Madura agak berbeda dengan lepet di Jawa, karena rasanya tawar.

Kesibukan mereka. terkait dengan akan berlangsungnya even tradisional Telasan Topak (penghabisan kupatan, tujuh hari setelah Idul Fitri). Dikenal juga dengan sebutan Telasan Tongareh. Sebagai masyarakat agamis, setelah Salat led mereka berkeliling ke kerabat, sahabat, relasi, dan tetangga untuk bersilaturahim sekaligus mengucapkan selamat berlebaran.

Sehari setelah Salat led, mereka lazimnya berpuasa kembali selama limahari, yaitu puasa Syawal. Baru tujuh hari setelah Idul Fitri mereka merayakan kemenangan yang sesungguhnya dengan ditandai even tradisional Telasan Topak. Itulah sebabnya Telasan Tongareh di Madura lebih meriah daripada hari “H” Lebaran di luar Pulau Garam itu.

 Mencari Jodoh
Telasan Topak merupakan hari baik bagi warga Madura. Bulan Syawal merupakan hari yang sangat cocok untuk mengadakan upacara selamatan seperti daeara tasyakuran, khitanan, pemikahan. Selain itu juga dipercaya sebagai hari yang baik untuk mencari jodoh. Lantaran itu banyak gadis dan jejaka yang ovensif meneari pasangan hidup. Mereka berbusana apik, berpenampilan menarik.

Acara temu jodoh itulah yang paling menarik para wisatawan. Tidak hanya perantau Madura yang toron dari Surabaya, Jakarta, dan kota-kota lain yang sengaja menyempatkan diri untuk hadir dalam even temu jodoh itu. Namun juga perantau yang toron dari Negeri Jiran, Malaysia. Aeara temu jodoh ini biasanya terjadi di pantai seperti di Sukolilo, Kwanyar, dan Pantai Camplong. Tak pelak, Telasan Topak menjadi sangat bermakna bagi masyarakat Madura.

Sejak usai subuh ibu-ibu sudah sibuk mempersiapkan segala perlengkapan untuk “pesta” ketupat. Ketika ketupat masak, giliran bapak-bapak ambil peran. Mereka meletakkan ketupat di sejumlah benda yang mereka anggap “berjasa” dalam mengumpulkan rejeki dan bekerja. Mulai dari eangkul, sabit, kereta/gerobak, hingga pepohonan yang selama ini memang memberi rejeki lumayan.

Disamping itu ketupat juga dikalungkan di leher sapi, kerbau, sapi kerapan, dan beberapa hewan peliharaan lainnya. Pendek kata, segala benda milik mereka yang “memberikan rejeki”, dikalungi ketupat. saat Telasan Topak itu. “Ini semacam pemutihan dan ucapan terima kasih ,” ujar Ahmad Rowi , warga Bangkalan.

Konvoi Perahu
Hal yang paling menarik adalah, upacara Telasan Topak di tepi pantai. Para nelayan menggantungkan ketupat pada perahu-perahu yang selama ini mereka gunakan mencari nafkah. Puluhan unit perahu “dikalungi” sesaji berupa kupat, lepet, ayam panggang plus aneka aksesori wama wami. Kemudian perahu-perahu cantik itu berkonvoi keliling pantai.

Paraawak perahu terlihat sangat bergembira pada hari itu. Mereka saling melempar ketupat dari perahu yang satu ke perahu lainnya, sambil terus melaju.

Setelah selesai upacara, mereka memakan ketupat bersama-sama. Kebersamaan antar-nelayan tampak nyata. Suasananya sarat kegembiraan.

Tentu, sangat banyak ketupat yang harus disiapkan untuk acara tradisional itu. Di kalangan keluarga yang social .ekonominya sederhana saja, lazim menyiapkan sekitar 100 buah ketupat, plus lepet sekitar separuhnya. Makanan pendamping ketupat di beberapa desa di pesisir selatan Madura, antara lain di Sukolilo dan Kwanyar, berupa ikan laut dimasak dengan santan kental. Gurih, nikmat. Tak sedikit pula warga masyarakat yang menyajikan ayam panggang sebagai pendamping ketupat.

Tentu, esensi even tersebut bukan pad a banyaknyajumlah sesaji. Lebih dari itu, tradisi kupatan di Madura merupakan perwujudan dari rasa menang melawan hawa nafsu selama Bulan Suci. Meski demikian, ritual yang menyertainya (dalam bentuk berbagai even tersebut) tetap perlu dilestarikan . Bahkan, dari perspektif pariwisata, berpotensi untuk dijadikan paket wisata. Tio

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 20, 10-24  Oktober 2003, Tahun I

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Seni Budaya dan tag , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s