Upacara Undhuh-Undhuh di Mojowarno, Jombang


Oleh
Frans. Priyohadi Marianno
dan Rahardjo

Penyelenggaraan suatu upacara tradisional cukup penting artinya bagi pembinaan sosial budaya masyarakat pendukungnya. Hal ini antara lain karena salah satu fungsi upacara tradisional adalah untuk memperkokoh norma-norma dan nilai-nilai budaya yang telah berlaku secara turun temurun.

Norma-norma dan nilai-nilai budaya itu ditampilkan secara simbolis di dalam bentuk upacara, dilakukan secara khidmat oleh para warga masyarakat pendukungnya dan dirasakan sebagai bagian yang integral serta akrab komunikatif dalam kehidupan kulturalnya. Hal ini membangkitkan rasa aman bagi setiap warganya di tengah lingkungan hidup bermasyarakat. Mereka merasa tidak kehilangan arah dan pegangan di dalam menentukan sikap dan tingkah laku sehari-hari. Rasa solidaritas antar sesama warga masyarakat dapat menjadi lebih tebal. Salah satu upacara tradisional yang diadakan oleh warga masyarakat Desa Mojowangi, Kec. Mojowarno, Kab. Jombang adalah Upacara Undhuh-undhuh.

Adapun gambaran lebih jelas mengenai upacara tersebut, berikut ini akan diuraikan: nama upacara; maksud dan tujuan upacara; waktu dan tempat penyelenggaraan upacara; penyelenggaran upacara; dan persiapan serta jalannya upacara.

1. Nama Upacara
Upacara tradisional yang diselenggarakan setahun sekali oleh warga masyarakat Desa Mojowangi, khususnya pemeluk agama Kristen, adalah upacara UNDHUH-UNDHUH. Upacara ini dikenal juga sebagai upacara “Persembahan”.

Undhuh-undhuh berarti memetik atau panen, yakni memetik hasil bumi khususnya padi. Para warga percaya bahwa segala apa yang diterima, baik yang menggembirakan maupun yang menyusahkan berasal dari Tuhan, termasuk hasil bumi atau panenan. Para petani sehabis panen merasakan adanya berkat yang lebih dari Tuhan, maka mereka dengan senang hati mempersembahkan sebagian hasil panenannya kembali kepada Tuhan untuk keagungan nama-Nya.

Dengan kata lain, upacara Undhuh-undhuh merupakan cara untuk menyampaikan tanda terima kasih kepada Tuhan yang telah memberi rahmat kepada umat-Nya, sehingga panen dapat berhasil dengan baik.

2. Maksud dan Tujuan Upacara
Maksud dan tujuan diadakan upacara Undhuh-Undhuh adalah sebagai suatu perwujudan dari persembahan umat Kristiani setempat kepada Tuhan, yang karena selama bekerja mengelola lahan pertaniannya (sawahnya) mendapatkan lindungan-Nya, sehingga dapat memperoleh hasil panen yang baik. Oleh karena itu, sebagai tanda ucapan terima kasih, mereka mempersembahkan kembali sebagian hasil olahan tanahnya kepada Tuhan.

Pada mulanya, bentuk persembahan yang berupa hasil bumi, khususnya padi, dibawa oleh petani langsung masuk ke gereja. Sejak beberapa dekade yang lalu (sebelum tahun 1956 sudah ada), bentuk persembahan mulai dimodifikasi. Bentuk persembahan diwujudkan dalam bentuk bangunan sesuai dengan tema yang ditentukan Gereja. Karena tema yang ditentukan Gereja selalu berubah-ubah, maka bentuk bangunan persembahan pun berubah-ubah, disesuaikan dengan tema yang ada.

Salah satu dari tema upacara Undhuh-Undhuh yang pernah dipilih oleh Gereja Jawi Wetan adalah: ALLAH SUMBER BERKAT.

Bentuk persembahan hasil bumi diadakan modifikasi dengan maksud antara lain agar persembahan tersebut tampak lebih indah. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir bangunan persembahan yang mirip pawai kendaraan hias mulai dilombakan. artinya, masing-masing bangunan persembahan dinilai menurut kriteria tertentu. Hal ini seperti pelaksanaan pawai mobil hias yang diadakan di Surabaya. Malang atau kota lain, sehinga kalau diangkat rnenjadi obyek wisata akan menjadi cukup menarik.

Hasil penilaian akan menentukan juara. Juara pertama mendapat piala bergilir. Apabila tiga tahun berturut-turut menjadi juara pertama, maka ia akan memperoleh piala tetap.

Sistem penilaian tersebut hanyalah sebagai daya tarik atau penambah semangat warga untuk berpartisipasi dalam perayaan Undhuh-Undhuh. Ada sebagian warga setempat yang berpendapat, bahwa persembahan tidak layak untuk dinilai. Menanggapi pendapat tersebut, Panitia rnengambil langkah dengan merahasiakan cara penilaian dan kriteria penilaiannya. Pada dasarnya, warga memang cukup bergairah dalam penyelenggaraan upacara Undhuh-Undhuh dengan membuat bangunan persembahan sebaik mungkin, dan mereka tetap menginginkan untuk diadakan penilaian.

3. Waktu dan Tempat Penyelenggaraan upacara
Upacara tradisional Undhuh-Undhuh, pada mulanya diadakan setiap habis panen setahun sekaIi, sehingga tanggal dan bulannya tidak menentu. Agar pelaksanaan upacara Persembahan dapat lebih semarak dan dapat dimasukkan dalam kalender wisata, Majelis Gereja telah menentukan pelaksanaan kegiatan upacara tersebut, yakni diadakan setiap hari Minggu pada minggu pertama bulan Mei.

Acara pokok dimulai pukul 07.30 WIB dan diharapkan berakhir pukul 14.00 WIB. Pada hari sebelumnya (Sabtu), kira-kira pukul 19.00 wib. Diadakan doa kebaktian bersama (bitaton tendo) dengan maksud agar pelaksanaan upacara Undhuh-Undhuh nantinya dapat berjalan dengan lancar.

Tempat pelaksanaan upacara yang utama adalah di dalam gereja. Acara pelengkap diadakan di halaman sebelah kanan gereja dan di pendopo kapanditan (tempat tinggal pendeta).

Dipilihnya tempat di Gereja Kristen Jawi Wetan Mojowarno sebagai tempat untuk penyelenggaraan upacara Unduh-Unduh, antara lain karena di tempat inilah untuk pertama kali Gereja Kristen Jawi Wetan melaksanakan kegiatan upacara Unduh-Unduh dan yang hingga sampai saat ini masih tetap bertahan untuk melaksanakannya.

4. Penyelenggara Teknis Upacara
Pada pelaksanaan upacara Undhuh-Undhuh, penyelenggara teknis adalah warga gereja Kristen Jawi Wetan Mojowarno. Untuk itu, dibentuk suatu kepanitiaan yang anggotanya terdiri dari warga majelis gereja.

Di samping itu, untuk penyelenggaraan upacara tersebut diperlukan bantuan tenaga dari pihak lain, yaitu pihak pemerintahan dan pihak keamanan setempat, seperti pihak Kecamatan, Kelurahan, Koramil, dan Polsek.

Susunan kepanitian terdiri dari : Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, dan berbagai seksi, antara lain: Seksi Lomba. Kepanitiaan tersebut dibentuk kira-kira sebulan sebelum pelaksanaan upacara Undhuh-Undhuh dilaksanakan. Pembubaran panitia dilaksanakan sesaat setelah upacara berlangsung.

5. Persiapan dan jalannya Upacara
Dalam upacara Undhuh-Undhuh, persiapan yang dilakukan adalah penyediaan perlengkapan upacara dan kegiatan persiapan untuk menyongsong jalannya upacara. Perlengkapan upacara antara lain berupa persembahan hasil bumi yang dibentuk bangunan, seperti: bentuk bangunan gereja.

Bahan pokok untuk membuat bangunan yang dipersembahkan adalah hasil bumi yang berupa padi, jagung, atau padi ketan yang dironce. Macam-macam persembahan lainnya yang juga sebagai hiasan bangunan antara lain berupa : kelapa, ketela, kacang tanah, berbagai jenis sayuran, dan berbagai macam buah-buahan, seperti: pepaya, salak, pisang, jeruk, nenas, dan lain-lainnya.

Selain hasil bumi, barang-barang persembahan warga jemaah ada yang berupa binatang, seperti: ayam dan burung serta ada pula yang berupa hasil karya kerajinan tangan, seperti kristik atau sulaman.

Pada kegiatan upacara Undhuh-Undhuh tahun ini, ada delapan macam bangunan persembahan dari delapan blok jemaah, yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu : Kelompok A yang termasuk kelompok besar, terdiri dari: Blok Mojowarno, Blok Mojowangi, Blok Mojoroto, Blok Mojodukuh, dan Rumah Sakit Kristen. Sedang kelompok B yang termasuk kelompok kecil berjumlah tiga buah, yakni: Blok Mojojajar, Blok Sukoharjo dan Blok Mojotengah. Pembagian kelompok tersebut berdasarkan besar kecilnya jumlah warga jemaah atau kemampuan blok yang bersangkutan.

Persembahan hasil bumi yang disebut bangunan tersebut pada masing-masing blok berbeda bentuknya dan setiap tahun selalu berubah sesuai dengan tema yang ditetapkan oleh Gereja Kristen Jawi Wetan.

Bangunan persembahan hasil bumi dibawa ke Gereja oleh seluruh warga jemaah masing-masing blok sebelum pukul 07.30 WIB. Keterlambatan membawa Bangunan persembahan akan mempengaruhi hasil penilaian tim juri, mengingat bahwa pada pukul 07.30 WIB upacara kebaktian di Gereja harus dimulai. Keterlambatan kedatangan rombongan persembahan yang biasanya disertai iringan musik dan bunyi-bunyian dapat menganggu jalannya upacara kebaktian.

Pada pukul 07.30 WIB semua bangunan persembahan telah siap diatur di halaman depan gereja. Tim juri menjalankan tugasnya menilai masing-masing bangunan secara diam-diam. Bersamaan dengan itu, upacara kebaktian dilaksanakan di gereja yang berlangsung selama kira-kira satu jam. Dalam acara kebaktian di gereja, sebagian anak-anak dan remaja membawa persembahan yang antara lain berupa buah-buahan yang diletakkan pada keranjang yang dihias untuk diserahkan kepada Tuhan melalui Pendeta yang sekaligus juga bertugas memimpin doa sampai selesai.

Setelah selesai kebaktian di Gereja, bangunan persembahan hasil bumi yang telah diserahkan ke gereja kemudian dibawa ke balai kepanditan. Arak-arakan bangunan persembahan dari halaman gereja ke ruang kepanditan diiringi bunyi-bunyian, seperti: kotekan lesung yang dimainkan oleh ibu-ibu yang telah cukup lanjut usiannya; gending-gending yang dialunkan oleh siswa-siswa SMP setempat; serta kesenian reog.

Pada pukul 10.00 WIB, semua bangunan persembahan sudah berada di ruangan sekitar kepanditan. Barang-barang persembahan tersebut dipersiapkan untuk dilelang.

Pembukaan lelang dilakukan oleh pendeta, dengan menawarkan sejumlah barang persembahan yang diletakkan di atas meja dengan harga sangat murah. Panitia lelang kemudian menawarkan kepada para pengunjung, barangkali ada yang bersedia membelinya dengan harga lebih tinggi. Selanjutnya Panitia memberi kesempatan kepada pengunjung lain yang berminat membelinya dengan harga lebih tinggi lagi. Demikian seterusnya sampai tidak ada seorang pengunjung pun yang berminat membeli barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi lagi. Panitia kemudian menghitung sampai tiga kali dan setelah hitungan ketiga, bende ditabuh. Hal ini berarti, bahwa pengunjung yang menawar terakhir itulah yang berhak memperoleh sejumlah barang di atas meja yang dilelang dengan harga yang telah ia sebutkan.

Berhubung jumlah barang persembahan yang dilelang cukup banyak, maka untuk menghabiskannya membutuhkan waktu lelang yang cukup lama. Menurut jadwal, acara lelang diperkirakan selesai pukul 12.00 WIB, tetapi kenyataannya, baru pukul 13.00 WIB acara lelang baru bisa diakhiri. Suasana lelang memang cukup ramai. Dari seluruh hasil lelangan ditambah padi persembahan yang dijual, panjtia dapat memperoleh uang sebanyak kurang lebih Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) yang akan dipergunakan sebagai Kas Gereja Kristen Jawi Wetan.

Kiranya perlu ditambahkan di sini, bahwa para pengunjung upacara Undhuh-Undhuh tersebut di atas, tidak hanya berasal dari warga masyarakat sekitar Gereja Mojowarno, tetapi juga ada yang berasal dari daerah lain, terutama para perantau di kota-kota besar (Jakarta, Surabaya dan lain-lain) yang pernah tinggal atau berasal dari Mojowarno. Para pengunjung tersebut juga diperkenankan mengikuti lelang

Penutup
Dengan masih diselenggarakannya upacara Undhuh-Undhuh di Mojowarno Kabupaten Jombang, akan membantu program pemerintah dalam rangka melestarikan budaya bangsa, sekaligus bermanfaat pula untuk pengembangan daerah tujuan wisata yang diharapkan dapat menambah devisa.

naskah asli:
UNDHUH2

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Kesejahteraan dan Nilai Tradisional, edisi 1, Agustus 1994. Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Jawa Timur, Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional

About these ads

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Jombang, Seni Budaya dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s